-->

Makam Kuno Gamong Lueng Bimba

Makam Kuno Gamong Lueng Bimba
Situs makam kuno Lueng Bimba terletak di gampong Lueng Bimba Kecamatan Meurah Dua Kabupaten Pidie Jaya. Situs ini terletak pada koordinat 05' 15'06,7" ˚LU - 096' 16'27,0" ˚BT dan berada pada ketinggian 5 mdp. Masyarakat Lokal sendiri mengenal situs ini dengan komplek makam "Teungku Kumuneng". Beliau dipercaya sebagai seorang ulama di kawasan ini pada masa lampau. Namun, berdasarkan temuan batu nisan plang-pling tersebut, situs ini adalah situs tertua yang ditemukan di Pidie Jaya. Batu nisan tersebut kerap di asosiasikan dengan kawasan Lamuri di situs Lamreh - Aceh Besar yang merupakan wilayah independen di Aceh pada awal abad ke-16 Masehi. Hal ini diperkuat dengan penemuan ratusan batu nisan yang motifnya sama persis diantara kedua situs tersebut. Keberadaan batu nisan ini memiliki nilai yang sangat penting dalam merekonstruksi ulang sejarah Pidie Jaya sejak 600 tahun yang lalu dan mampu memberikan gambaran yang lebih jelas tentang sejarah perkembangan Islam dan kebudayaan masyarakat Pidie Jaya sejak awal abad ke-15 Masehi.

24 Januari 2025

Malem Dagang (Tgk. Japakeh)

Tidak ada komentar :
Malem Dagang merupakan putra Negeri Meureudu yang diangkat oleh Sulthan Iskandar Muda sebagai panglima perang besar untuk menyerang Semenanjung Malaka. Menurut H M Zainuddin dalam buku Singa Aceh, Biographi Seri Sulthan Iskandar Muda, terbitan Pustaka Iskandar Muda, Medan (1957), Malem Dagang merupakan pria yang cerdik yang memiliki banyak kaum. Bersamanya juga diangkat Teungku Japakeh yang sama-sama dari Meureudu sebagai penasehat perang.

Konon menurut Hikayat Malem Dagang karangan Teungku Chik Pante Geulima, diangkatnya Malem Dagang sebagai Panglima Besar atas pemintaan Putroe Phang, permaisuri Sulthan Iskandar Muda. Alasannya, Malem Dagang dinilai sebagai orang yang berkepribadian teguh dan alim. Sementara pengangkatan Tengku Japakeh sebagai penasehat perang merupakan permintaan dari Malem Dagang kepada Sulthan Iskandar Muda.

Di hadapan Sulthan Iskandar Muda dan pasukannya, Malem Dagang menyatakan baru menerima jabatan sebagai panglima besar bila Malem Dagang yang dianggap sebagai guru spiritualnya itu ditunjuk sebagai penasehatnya. Permintaan itu dikabulkan oleh Sulthan Iskandar Muda. Keduanya kemudian meniggalkan negeri Meureudu bersama pasukan yang dihimpun Sulthan Iskandar Muda untuk menyerang semenanjung Malaka.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terimakasih Komentarnya