-->

Makam Kuno Gamong Lueng Bimba

Makam Kuno Gamong Lueng Bimba
Situs makam kuno Lueng Bimba terletak di gampong Lueng Bimba Kecamatan Meurah Dua Kabupaten Pidie Jaya. Situs ini terletak pada koordinat 05' 15'06,7" ˚LU - 096' 16'27,0" ˚BT dan berada pada ketinggian 5 mdp. Masyarakat Lokal sendiri mengenal situs ini dengan komplek makam "Teungku Kumuneng". Beliau dipercaya sebagai seorang ulama di kawasan ini pada masa lampau. Namun, berdasarkan temuan batu nisan plang-pling tersebut, situs ini adalah situs tertua yang ditemukan di Pidie Jaya. Batu nisan tersebut kerap di asosiasikan dengan kawasan Lamuri di situs Lamreh - Aceh Besar yang merupakan wilayah independen di Aceh pada awal abad ke-16 Masehi. Hal ini diperkuat dengan penemuan ratusan batu nisan yang motifnya sama persis diantara kedua situs tersebut. Keberadaan batu nisan ini memiliki nilai yang sangat penting dalam merekonstruksi ulang sejarah Pidie Jaya sejak 600 tahun yang lalu dan mampu memberikan gambaran yang lebih jelas tentang sejarah perkembangan Islam dan kebudayaan masyarakat Pidie Jaya sejak awal abad ke-15 Masehi.

07 Mei 2009

Makam Sultan Johor

Tidak ada komentar :
LHOKSUKON - Peneliti Sejarah Kebudayaan Islam dari Yayasan Waqaf Nurul Islam Lhokseumawe, kembali menemukan makam bersejarah di Aceh Utara. Kali ini, makam yang ditemukan diduga adalah makam seorang Sultan Johor, ‘Ala’uddin Ri’ayah Syah yang letaknya di gampong Meunasah Mesjid Bluek, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara (sekitar 18 Km timur Lhokseumawe) di kebun masyarakat. Rata Penuh Ketua peneliti sejarah Kerajaan Pase, Tgk Taqiyuddin mengatakan, dugaan ini muncul setelah melihat keterangan yang terdapat dalam Hikayat Melayu atau Sulalatus Salatin bahwa Sultan ‘Ala’uddin Ri’ayat Syah telah meninggal di Aceh yang berkedudukan di wilayah Pase. Bahkan, katanya, menurut hikayat melayu, kakanda dari Sultan Abdullah yang memerintah di Batu Sawar pada awal abad ke-17 M, telah dimakamkan di Pasai, sebab ia berkedudukan di Pasai dan meninggal sekitar tahun 1613. Sultan Johor itu diperkirakan berkuasa pada masa Pemerintahan Sultan Iskandar Muda di Aceh (1607-1636). Dengan ditemukan makam yang tepatnya berada di depan mesjid lama Bluek ini dapat membantah buku “Aceh Sepanjang Abad” dari sumber-sumber Belanda dan asing. Dalam buku itu, disebutkan bahwa Sultan ‘Ala’uddin Ri’ayah Syah telah dihukum pancung di Aceh. Karenanya, hal itu perlu ditinjau kembali,” ujarnya. Sebagaimana diketahui Aceh dan Johor adalah dua kekuatan muda yang sangat menentukan dalam sejarah Asia Tenggara menggantikan peran Samudra Pasai dan Melaka pasca kejatuhannya. Kedua kerajaan besar ini dikenal sangat anti-imperialisme barat berikut monopoli dagang mereka yang sangat merugikan berbagai wilayah di nusantara. Penemuan makam ini, tambah Taqiyuddin, tidak lepas dari bantuan warga setempat. Penelitian kali ini, sebutnya, didanai oleh infak dari Mukhlis (34), Direktur Zahir Computer Lhokseumawe. Bahkan, telah berhasil mengangkat kedua batu nisan berukuran sekitar 1,5 meter yang sebagiannya nyaris tertanam.(ib)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terimakasih Komentarnya